Jumat, 01 Januari 2010

MENYUSURI SUNGAI MENDALAM

Pontianak, 1 Mei 2009

       Gubernur Kalbar, Cornelis, kembali melakukan kunjungan kerja. Kali ini 2 daerah di ujung timur Kalbar, yakni Kabupaten Sanggau dan Kapuas Hulu. Karena agenda terbanyak di Bumi Uncak Kapuas (julukan Kabupaten Kapuas Hulu), Cornelis mengawali kunjungan kerjanya di sana. Ikut dalam rombongan sejumlah Kepala SKPD di lingkungan Pemprov Kalbar.

Saya termasuk dalam kelompok wartawan yang ikut dalam kunker gubernur. Selain itu, ikut juga wartawan Borneo Tribune, Hentakun beserta fotografernya Lukas B. wijanarko, reporter Ruai TV Yuventus Ivie, reporter TVRI Pontianak Christine Bukit.

Perjalanan menuju Kapuas Hulu sangat jauh, jaraknya mencapai 790 KM dari Kota Pontianak. Kami para wartawan menumpang mobil Humas Pemprov. Setelah menempuh jalan darat yang cukup melelahkan hampir 18 jam (plus singgah di beberapa rumah makan), kami pun tiba di Kota Putussibau Kapuas Hulu.

       Malam pertama di Kapuas Hulu saya menginap di sebuah losmen. Satu kamar dengan Hentakun. Tidak seperti biasa, saya bisa bangun pagi. Padahal kalau di rumah selalu bangun kesiangan. Tapi Hari itu belum ada kegiatan, karena gubernur belum datang. Humas memang 2 hari lebih awal datang ke Kapuas Hulu untuk mematangkan semua persiapan acara dan kegiatan KB 1.

Waktu kosong saya manfaatakan untuk melihat – lihat suasana Kapuas Hulu, maklum ini untuk pertama kalinya berkunjung ke Bumi Uncak Kapuas. Hentakun memperkenalkanku dengan bekas teman kuliahnya di Yogyakarta Sa, yang berasal dari daerah setempat. Singkat cerita Sa, memperkenalkanku dengan sepupunya, Imenk. Dengan motornya, Imenk menggoncengku menyusuri jalan – jalan di Putussibau dan sekitarnya.

Di hari ketiga, rombongan Gubernur baru tiba di Kapuas Hulu menggunakan pesawat Fokker IAT (Indonesian Air Transport).

Lukas B. Wijanarko, fotografer Borneo Tribune yang menumpang pesawat tersebut, menuturkan pengalaman mencekam saat terbang. Dimana pesawat sempat mengalami guncangan akibat turbulensi yang membuat panik 50 penumpang. Melalui pengeras suara, sang pilot menjelaskan hal itu terjadi terjadi akibat cuaca buruk saat terbang dengan ketinggian sekitar 18 ribu kaki di atas permukaan laut.

Gereja sebagai wadah pembangun umat

Kapuas Hulu (4 Mei 2009)

       Agenda pertama gubernur adalah meletakkan Batu pertama pembangunan Gereja Gereja Paroki Hati Maria Tak Bernoda di Kota Putussibau.

Ketika memasuki tempat berlangsungnya acara, Cornelis dan istri, Frederika serta rombongan disambut dengan tarian Manyialo, dan diiringi musik tradisional Manjaratun serta tetabuhan gendang. Suatu tradisi dari masyarakat Etnis Dayak Taman untuk menyambut kedatangan tamu.

Entah kapan Cornelis memperdalam ilmu agama. Namun kemampuannya menjelaskan pemahaman tentang suatu agama, cukup membuat kagum ratusan orang yang hadir, termasuk Uskup Agung Sintang Monsinyur Agustinus Agus.

“Saya bukan bermaksud menggurui,” celetuk sang Gubernur. “Tapi ini pengalaman saya, yang pernah melintasi berbagai pulau maupun sejumlah negara. Bahwa ilmu pengetahuan tidak selalu membuat orang menjadi sukses. Melainkan keuletan dan kecekatan seseorang untuk memahami dan mengaplikasikan apa yang diketahuinya, yang akan membawa seseorang menuju kesuksesan,” ujarnya saat memberikan sambutan.

“Demikian halnya dalam kehidupan beragama, orang tidak akan beriman dan mustahil diselamatkan oleh apa yang ia ketahui tentang imannya. Tetapi bagaimana ia menginterpretasikan dan mengaplikasikan pengetahuan imannya dalam kehidupan sehari-hari,” lanjut Cornelis kian bersemangat.

“Jadi, seorang yang beriman adalah seorang yang senantiasa berusaha untuk melihat, menyadari dan menghayati kehadiran Tuhan dalam kehidupannya,” tambahnya.

       Selain itu, gubernur juga minta setiap gereja dapat menyediakan ruang ibadah yang representatif, dan mampu membangun potensi yang dimiliki umat. Namun ia menegaskan bukan itu saja tujuan membangun rumah ibadah. Gereja juga harus mampu mengembangkan potensi yang dimiliki oleh umat. Dimulai dengan pola pembinaan para pemuda berdasarkan dogma Katolik, yang dilanjutkan dengan kebaktian rutin baik di gereja maupun di rumah.

Cornelis kembali menekankan perlunya partisipasi aktif seluruh umat Katolik, dalam melengkapi sarana maupun fasilitas rumah ibadat. “Jangan membebankan pada Pemerintah, orang atau lembaga tertentu,” ingat Cornelis.

Dirinya yakin dengan keterlibatan seluruh umat Katolik, kebutuhan akan gereja yang representatif dapat terwujud. Tentunya disesuaikan dengan kemampuan masing-masing jema`at.

       Sementara itu, Pastor Gereja Paroki Hati Maria Tak Bernoda, Widiyatmoko dalam pidatonya menceritakan jika tempat dibangunnya gereja adalah bekas lapangan sepak bola bernama Imelda. Pembangunan gereja merupakan perluasan dari bangunan lama, mengingat kondisinya sudah memprihatinkan. Di samping kondisi fisik bangunan rusak dimakan usia, kapasitas gereja juga sudah tidak lagi mampu menampung jema`at yang kian hari bertambah, Khususnya ibadat yang diselenggarakan pada hari-hari besar keagamaan seperti perayaan Paskah dan Misa Natal.

Acara ini dihadiri ratusan umat Katolik, komunitas Gereja Paroki, serta sejumlah kepala dinas provinsi dan kabupaten setempat.

Di akhir acara Cornelis, menyerahkan bantuan sarana kontak kepada gereja, berupa satu unit orgen untuk sarana penunjang ibadah.

Infrastruktur PLB Badau dan PLB Aruk

       Usai acara tersebut, rombongan gubernur kemudian menuju Rumah dinas Wakil Bupati Kapuas Hulu, Yoseph Alexander untuk santap siap. Di sini Cornelis juga memberi kesempatan pada awak media untuk melakukan wawancara singkat. Beberapa hal yang dijelaskan gubernur adalah menyangkuat Kesiapan pembukaan PLB Badau di Kabupaten Kapuas Hulu dan Aruk di Kabupaten Sambas.

Ia mengatakan saat ini pengerjaannya tengah memasuki tahap akhir. Koordinasi antara Pemerintah provinsi dan kedua kabupaten terus dioptimalkan, menjelang peresmiannya yang dijadwalkan bulan Juni mendatang. “Dua proyek dengan multi years anggaran ini, tinggal menyelesaikan pengerjaan jalan utama di masing-masing PLB. Kendati semua telah rampung dan mendapat lampu hijau dari tim penilai pemerintah pusat. “Peresmian kedua pintu perbatasan ini oleh Presiden RI, juga harus menunggu kesiapan dari pemerintah negara Malaysia,” jelas Cornelis.

Cornelis menyebutkan pembukaan PLB Aruk di Sajingan dan PLB Badau yang direncanakan Juni mendatang, merupakan hasil kesepakatan pertemuaan sosek Malindo di Malaka tahun 2008 lalu. Dengan dibukanya kedua pintu perbatasan Kalbar – Sarawak ini, Cornelis memprediksi mampu memacu perkembangan perekonomian di kawasan perbatasan sepanjang 857 kilometer.

Sementara itu, tahapan pembukaan dua PLB yang lain, masing masing Desa Jasa, Kecamatan Senaning, Kabupaten Sintang dan Jagoi Babang di Kabupaten Bengkayang bakal menyusul beberapa tahun ke depan. Menurut Cornelis pembukaan ke lima PLB tersebut, merupakan upaya percepatan pembangunan perbatasan secara terintegrasi. Dengan dasar penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) sesuai hierarki pemerintahan.

Dari Rumah dinas Wakil bupati rombongan gubernur bergerak ke sebuah Pangkalan sungai, tempat bertambatnya kapal motor tradisional yang melayani jalur transportasi ke wilayah pedalaman. Lokasinya hanya beberapa meter dari depan Rumah dinas Bupati Abang Tambul Hussen.

Perjalanan selanjutnya adalah menuju desa Padua di Kecamatan Putussibau Selatan.

Sungai Sibau Yang Kering

       Terik matahari terasa membakar kulit. Di atas long boat bermesin 40 PK, Gubernur Kalbar yang duduk di samping istrinya Frederika, termenung memandang kanan-kiri sungai. Ke mana pun mata memandang, yang terlihat adalah kerusakan akibat tangan-tangan serakah manusia.

Hanya mau menebang pohon namun enggan menanam kembali. Sesekali Cornelis menarik nafas panjang. Kelihatan ada sesuatu yang tak nyaman di benaknya. Pemandangan alam nan indah terkoyak oleh kondisi tanah di pinggir sungai. Abrasi mulai mengikis daratan secara perlahan, akibat penebangan hutan liar yang tidak terkendali.

Di sepanjang bantaran sungai, pohon-pohon yang tinggi sangat sulit dijumpai. Hanya semak belukar yang akarnya tidak mampu lagi mengikat tanah. Banjir kiriman yang terjadi tiap tahun, mengikis sedikit demi sedikit daratan pesisir sungai. Akhirnya Sungai Sibau kian melebar dan semakin dangkal.

Delapan unit long boat yang ditumpangi rombongan terus bergerak perlahan. Gubernur duduk di bagian depan. Makin masuk ke ke pedalaman arus pun semakin deras. Sementara sungai tampak semakin dangkal. Saat ini memang musim kemarau, di mana debit air sungai berkurang hingga mencapai 80 persen dari batas normal.

       Perjalanan menyusuri sungai memang sedikit kurang menyenangkan. Selain memandangi kerusakan hutan, kondisi sungai yang dangkal membuat long boat juga harus berputar miring, mirip ikan berenang di parit yang dangkal. Yang lebih parah lagi, long boat yang ditumpangi gubernur juga kerap mogok. Mesin sering ngadat, dan harus diutak-atik dulu oleh sang juru mudi baru mau jalan lagi. Aneh juga.... Namun yang lebih aneh lagi, gubernur justru terlihat asyik baca koran. Mungkin ini salah satu cara menghilangkan rasa kesalnya.

       Kehadiran gubenur dan rombongan beserta Wakil Bupati Kapuas Hulu Yoseph Alexander, sempat menjadi perhatian warga di sekitar, terutama anak-anak remaja yang tengah bermain di sungai yang membelah Kota Putusibau ini.

Bahkan dari atas jembatan yang melintasi sungai berjarak 500 meter dari lokasi, beberapa pengendara motor terlihat menghentikan kendaraannya, sekadar melihat delapan long boat yang sedang melintas.

Tiba di Putusibau Selatan

       Setelah menempuh perjalanan menyusuri Sungai Sibau sekitar tiga jam, akhirnya rombongan tiba di lokasi tujuan. Desa Padua Kecamatan Putussibau Selatan, tanah kelahiran sang menantu. Upacara khusus digelar sang besan dan masyarakat setempat, menyambut kedatangan tamu kehormatan.

Perahu khusus dirancang dengan menggabungkan 2 long boat, yang didisain seperti kapal. Jika dilihat sepintas, mirip kapal perang Portugis. Dengan kapal rancangan para pemuda setempat, gubernur dan keluarga dibawa merapat menuju steigher, di dekat rumah sang besan, Alexander Mering.

       Cornelis menginjakkan kaki di tanah kelahiran pastor Aloysius Yohannes Ding Ngo, pastor pertama di Kalbar dari etnis Dayak. Diawali pemotongan Munang Uwe (tali rotan) Cornelis dan rombongan kemudian menuju Gereja Paroki Santo Antonius.

Desa Padua sebenarnya tidak terlalu jauh dari Kota Putussibau. Menuju perkampungan tidak perlu naik turun gunung, apalagi keluar masuk hutan belantara. Namun terbatasnya sarana transportasi, dimana jalur darat belum menembus wilayah ini. Menyebabkan jarak 30 km dari ibukota Kabupaten Kapuas Hulu ini terasa sangat jauh dan perjalanan melewati sungai menjadi melelahkan.

       Menurut penuturan warga setempat, sub-suku Dayak Kayan berasal dari wilayah Kalimantan Timur dan memiliki kekerabatan dengan etnis Kayan di wilayah Sarawak Malaysia. Kendati menerima budaya dari luar, namun warga Desa Padua sangat teguh memegang tradisi. Budaya leluhur masih terpelihara, dan tampak pada hasil tenunan, ukiran dan berbagai kerajinan tangan.

Perpaduan Tradisi dan Ibadat

       Kegiatan Gubernur desa Padua, diawali dengan menghadiri Misa Inkulturasi Dange yang digelar di Gereja Paroki Santo Antonius. Cornelis beserta keluarga termasuk keluarga sang besan beserta ratusan jema`at memadati gereja yang terletak di hulu Sungai Mendalam, sekitar 10 Kilometer dari Kota Putussibau ini, hanyut dalam alunan musik yang diiringi kidung pujian.

Pelaksanaan Misa Dange bagi etnis Dayak Kayan, bukan saja sebagai ritual ibadat tahunan. Namun juga sebagai ungkapan rasa syukur terhadap Tuhan yang Maha Esa, atas hasil panen pada tahun ini. Dalam khutbah yang juga menggunakan Bahasa Dayak Kayan, Uskup Agung Sintang Monsinyur Agustinus Agus mengatakan, hasil panen merupakan karunia Tuhan yang maha pemurah, sehingga wajib disyukuri. Dan bagi umat Katolik, bentuk rasa syukur tersebut dapat ditindaklanjuti dengan melakukan ritual ibadat khusus di gereja.

       Nuansa etnsis Dayak begitu kental terlihat, bukan saja pada prosesi ritual ibadat. Namun juga pada busana yang dikenakan para jema`at gereja paroki. Semuanya bermotif Dayak Kayan, dimulai dari sarung, selendang, gelang, serta aksesoris lainnya. Tidak ketinggalan tengkulas. Warna merah, kuning dan hitam yang mendominasi di hari yang cerah, menambah semarak suasana.

Seiring perjalanan waktu dan misa perayaan panen terus digelar masyarakat Dayak Kayan setiap tahun. Masyarakat pun sepakat menamainya Misa Dange atau misa setelah panen. Artinya telah terjadi perpaduan atau inkulturasi antara tradisi masyarakat Dayak Kayan dengan ritual ibadat gereja Katolik.

Lestarikan Tradisi Yang Mulai Pudar

       Seusai mengikuti prosesi misa dan menyaksikan tradisi dange, gubernur dan rombongan kembali melanjutkan perjalanan menuju Dusun Datah Dia`an di ujung Desa Padua. Menggunakan sepeda motor milik salah satu angota Satpol PP setempat, Cornelis berboncengan dengan ibu Frederika menyusuri jalan yang telah dirambat semen sekitar 15 menit. Pemandangan unik ini cukup menarik perhatian warga sekitar, di atas sepeda motor Yamaha King warna hitam dengan berpakain dinas hijau tua, Cornelis sesekali melambaikan tangan kirinya dan membunyikan klakson menegur warga yang berdiri di sepanjang jalan.

Kedatangan Gubernur Kalbar Cornelis ke dusun kecil ini untuk meresmikan rumah adat Longlingehatung, yang dibangun dari hasil sumbangan dan gotong-royong warga setempat. Pembangunan rumah adat khas Dayak ini dimulai tahun 2008 lalu, dengan ukuran 40x40 meter dan berada di pinggir Sungai Mendalam.

       Didampingi Uskup Agung Sintang Monsinyur Agustinus Agus dan Wakil Bupati Kapuas Hulu Yoseph Alexander, Cornelis disambut masyarakat dengan upacara khusus. Alunan musik dan tarian etnis Dayak Kayan kembali ditampilkan menyambut kedatangannya. Tarian Hudo` dibawakan belasan penari dengan busana tradisonal, menggunakan tutup kepala yang dihiasi bulu ekor burung Ruai dan paruh burung Enggang. Diawali pemotongan Munang Uwe (lingkaran rotan) kemudian Cornelis menaiki tangga rumah adat Longlingehatung yang dilanjutkan dengan penandatangani prasasti.

       Dalam pidatonya Uskup Agung Sintang Monsinyur Agustinus Agus mengatakan, selain menjadi wadah pertemuan untuk mencapai kesepakatan dalam memecahkan berbagai persoalan di masyarakat. Keberadaan rumah adat ini juga dapat difungsikan sebagai sarana pengembangan budaya masyarakat lokal.

Selanjutnya Wakil Bupati Kapuas Hulu Yoseph Alexander meminta berdirinya rumah adat yang representatif di hulu Sungai Mendalam ini, jangan hanya sebagai tempat serenomial saja. Namun harus dibarengi langkah yang bersifat membangun kreatifitas dan memacu produktifitas masayarakat setempat. Menurutnya, masyarakat adat Dayak harus menjaga dan melestarikan adat istiadat, bahkan dituntut menggali potensi budaya yang masih terpendam. Sehingga dapat menjadi aset daerah serta mampu bersaing dengan budaya lain di pentas tingkat nasional.
     

       Sementara itu seusai memperkenalkan rombongan satu persatu, Gubernur Kalbar Cornelis mengatakan masyarakat Dayak merupakan masyarakat adat terbesar di Kalimantan. Namun sedikit sekali kekayaan budaya yang dapat diangkat ke tingkat nasional maupun manca negara.

Padahal setiap sub-suku Dayak menyimpan keunikan tersendiri dan bernilai historis. Untuk itu pembangunan rumah adat Longlingehatung ini diharapkan menjadi awal pengembangan budaya etnis Dayak, dengan menggelar berbagai kesenian lokal. Bahkan menjadi salah satu penggerak sektor perekonomian daerah.

Cornelis kembali menegaskan pelestarian adat istiadat mutlak dilakukan, agar tidak punah dan hanya menjadi catatan sejarah di kemudian hari. Untuk itu kaum muda sebagai generasi penerus bangsa dituntut bertanggung jawab, menjaga keberlangsungan berbagai tradisi yang mulai pudar.

        Pada kesempatan ini Cornelis juga menyerahkan bantuan sarana kontak berupa peralatan olah-raga untuk para remaja setempat. Serta memberikan sumbangan bagi pembuatan teras rumah adat. agar lebih indah.


Sungai Mendalam

       Tak habis pikir, apa yang sebenarnya terjadi dengan negeri ini. Kemiskinan dan kesengsaraan masih merajalela. Seakan tak ada upaya keras dari orang-orang yang notabene dipercaya rakyat untuk setidaknya memperjuangkan penghapusan kemiskinan dan kesengsaraan rakyat.

Hal itu terlihat saat mengunjungi Dusun Nanga Hovat di Desa Datah Dian Kecamatan Putussibau Utara yang masih terisolir. Masyarakat setempat hingga saat ini masih kesulitan memperoleh akses informasi dan komunikasi, sehingga masyarakat tidak mengetahui perkembangan di luar. Selain itu, belum tersedianya pusat layanan kesehatan menyebabkan masyarakat harus menyeberang ke dusun tetangga jika harus berobat. Sementara untuk menuju ke dusun ini, satu-satunya akses transportasi harus menggunakan long boat menyusuri Sungai Mendalam yang berliku dan berarus deras.

     
       Cornelis tampak tertegun mendengarkan berbagai keluhan warga, saat menggelar dialog singkat selama 30 menit dengan warga sekitar. Dari komunikasi dua arah ini, warga menyampaikan keinginan adanya perubahan kondisi di daerah terpencil dan terisolir ini, terutama menyangkut akses pelayanan masyarakat dari pemerintah.

Kemudian Kepala adat Dusun Nanga Hovat, Petrus Marok menuturkan sebelumnya umat Katolik di daerah ini bersembahyang di sebuah kapel. Namun kondisi fisik bangunan saat ini sudah tidak memungkinkan lagi dipergunakan untuk ibadat. Masyarakat pun berupaya mengumpulkan dana guna mendirikan sebuah gereja yang memadai, namun upaya tersebut mentok karena dana belum mencukupi.

Keinginan memiliki gereja yang representatif baru terwujud setelah adanya bantuan keuangan dari Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu dan Provinsi Kalbar. “Suatu kebanggan bagi kami karena penancapan tiang pertama dilakukan langsung oleh gubernur,” kata Petrus.

Menyikapi hal itu, Cornelis berjanji membantu berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat. Tentunya harus disesuaikan dengan kondisi keuangan daerah dan tetap mengacu pada skala prioritas. Sebagai langkah awal bantuan listrik tenaga surya diberikan kepada seluruh kepala keluarga (KK) dan akan diikuti upaya penyediaan kebutuhan lainnya. Untuk itu` Cornelis meminta kepala dusun segera mendata dan menyerahkan daftar nama KK yang bakal menerima bantuan.

“Alternatif tersebut diambil sebab untuk menyuplai aliran listrik ke daerah ini, jelas tidak efektif,” tegas Cornelis. Mengingat lokasinya yang sangat jauh serta akses jalan menuju Dusun Datah Dian juga belum tersedia.

Selain melakukan penancapan tiang pertama pembangunan Gereja Santo Marcus, gubernur juga menyerahkan secara simbolis panel listrik bertenaga surya (PLTS) kepada warga setempat. Namun bantuan tersebut, baru dapat terealisasi dua bulan ke depan. Karena harus mengikuti prosedur tender, mengikuti peraturan yang telah ditetapkan.

Guru Honor Merangkap Kepala Sekolah 

       WAJAH Helaria Hangun tampak sumringah ketika menyaksikan orang nomor satu di Kalbar ini berkunjung ke desanya. Guru honorer di Sekolah Dasar Negeri 16 Dusun Nanga Hovat Desa Datah Diaan, Kecamatan Putussibau Utara tersebut telah lama ingin menyampaikan sejumlah persoalan terkait dunia pendidikan di pedalaman Kalbar.

Kunjungan Gubernur Kalbar Cornelis ke Dusun Nanga Hovat, memang telah lama dinantikan. Selain disambut dengan musik dan tarian bernuansa etnis setempat, Cornelis juga menemukan sejumlah fakta miris di lapangan yang tak pernah mencuat ke permukaan.

Sebagai contoh, cerita di balik SD Negeri 16. Sekolah yang dibangun pada tahun 1983 ini, hanya punya satu guru yang harus mengajar rangkap dari kelas 1 hingga kelas 6. Kondisi ini mengakibatkan proses belajar mengajar menjadi kacau. Lebih memilukan lagi, ketika menghadapi ujian akhir nasional, sebagian besar siswa dinyatakan tidak lulus.

Di hadapan Cornelis, Helaria mengaku kewalahan karena harus memborong semua mata pelajaran atau bidang studi. “Sebelumnya memang ada dua orang guru kontrak yang mengajar di sini, saya dan Lidya Lahe,” kata Helaria.

Namun setelah lulus dalam tes CPNS tahun ini, Lidya kemudian mengajukan pindah. Selanjutnya, tinggal Helaria sendiri yang harus membagi waktu agar seluruh siswa dari kelas 1 hingga kelas 6, yang berjumlah 27 orang dapat pelajaran. Helaria juga merasa terbebani dengan tugas sebagai kepala sekolah. Padahal ia masih berstatus pegawai honor.

Helaria minta kepada gubernur mengambil sikap atas kondisi yang terjadi di dusun terpencil ini. Ia menginginkan ada penambahan jumlah tenaga pengajar di SDN 16.

Mendengar hal itu, Cornelis lama terdiam dan memandangi wajah mungil sang guru berusia 24 tahun ini. Gubernur mengucapkan terima kasih dan memberikan apresiasi tinggi atas pengabdian yang telah disumbangkan bagi dunia pendidikan di dusun terpencil ini.

Cornelis berjanji membantu kekurangan tenaga pengajar di SDN 16, melalui perekrutan guru kontrak atau guru bantu. Selain itu dirinya juga berupaya menyediakan dana, guna perbaikan kondisi fisik bangunan sekolah serta penambahan fasilitas penunjang pendidikan lainnya.

       Kehadiran Gubernur di lokasi yang berada di hulu Sungai Mendalam ini didampingi Wakil Bupati Kapuas Hulu Yoseph Alexander, beberapa kepala dinas serta dr Karolin Margret Natasa, Caleg DPR RI dari PDI Perjuangan Kalbar yang berhasil menembus ke Senayan. Kegiatan ini menutup rangkaian kunjungan Gubernur Kalbar Cornelis dan rombongan di Kabupaten Kapuas Hulu.

Meninggalkan Putussibau 

       Delapan unit long boat secara perlahan kembali menyusuri Sungai Mendalam menuju Putussibau. Kerasnya suara mesin memecah kesunyian alam. Sebelum tiba di ibukota Kapuas Hulu, rombongan menyempatkan diri beristirahat di Taman Betian, salah satu bantaran Sungai Mendalam.

Gubernur sekeluarga dan sejumlah pejabat teras daerah ini memanfaatkan santap siang bersama sambil bercengkrama dengan alam. Hidangan segar seperti ikan air tawar hasil tangkapan nelayan setempat melengkapi perjalanan orang nomor wahid di Kalbar ini.

Bahkan, Nyonya Frederika Cornelis, yang ditemani oleh beberapa istri dari kepala Dinas Provinsi menyempatkan diri memanggang langsung ikan-ikan tersebut. Nuansa kekeluargaan terasa sangat kental dalam perjalanan itu. Suasana ini juga sekaligus menjadi penawar dari lelahnya sebuah perjalanan panjang.

Setelah beristirahat selama satu jam, rombongan kemudian meneruskan perjalanan menuju Putussibau. Di sana, Bupati Kapuas Hulu, Abang Tambul Husin telah menanti. Gubernur pun menyempatkan diri berbincang sejenak di rumah Bupati Kapuas Hulu ini. Kemudian perjalanan dilanjutkan ke Bumi Daranante Kabupaten Sanggau.

Tiba di Sanggau

       Kedatangan Cornelis ke daerah ini untuk meresmikan Kantor Pusat Credit Union (CU) Lantang Tipo di Desa Bodok Kecamatan Parindu, sekitar 20 Kilometer dari Kota Sanggau.

Sejak pukul 08.00 Wib, ribuan warga telah memadati kompleks Gereja Paroki Pusat Damai, tempat berlangsungnya acara. Ketika memasuki pintu gerbang, gubernur dan rombongan kembali disambut dengan tarian etnis Dayak. Misa syukur dan pemberkatan yang dipimpin langsung Uskup Agung Sintang Monsinyur Agustinus Agus menjadi awal dari kegiatan tersebut. Misa digelar pada pukul 10.00 wib dan diikuti ratusan jema`at Katolik di Kantor CU Lantang Tipo.

Selain dihadiri pejabat pemerintahan dan komunitas gereja paroki, acara ini juga diikuti 32 perwakilan CU Lantang Tipo di wilayah Kalbar. Rangkaian acara peresmian Kantor Pusat CU Lantang Tipo ini, selain menampilkan tarian dan musik etnis Dayak, juga menampilkan lagu-lagu pop nasional.

Bahkan, panitia penyelenggara juga menyuguhkan atraksi kuda lumping. Pagelaran musik, tarian, serta atraksi yang ditampilkan membuat semarak acara. Tentunya juga membuat panitia sedikit kewalahan mengatur para pengunjung yang memadati Gereja Paroki Pusat Damai.

Peresmian Kantor CU Lantang Tipo dibuka dengan penampilan tarian Gondang Aru, yang dibawakan oleh muda-mudi. Tarian melambangkan proses pengolahan padi menjadi beras, dimulai dari proses pembersihan lahan, pembibitan, penanaman, perawatan, penuaian hingga pengolahan menjadi beras.

Sebuah ilustrasi yang menggambarkan perkembangan CU Lantang Tipo, dari mendirikan, membentuk pengurus, merintis keanggotaan, mengembangkan program dan melaksanakan kegiatan hingga memiliki kantor pusat nan megah berlantai tiga, yang peresmiannya dilakukan gubernur Kalbar.

Ketua CU Lantang Tipo Marcelus Sunardi yang menceritakan, sejak didirikan pada tanggal 2 Februari 1976 atau 33 tahun lalu, koperasi kredit ini dikelola oleh tenaga profesional sesuai keahlian di masing-masing bidang. Seiring perjalanan waktu, nilai aset, aneka produk serta jumlah anggota dengan cepat bertambah, maka pada tahun 2001 Kantor CU diperluas. Namun perkembangan CU di kemudian hari sungguh luar biasa, sehingga memaksa pengurus untuk membangun kantor pusat baru yang lebih representatif. Kantor yang dapat memfasilitasi segala program maupun kegiatan pemberdayaan perekonomian masyarakat, maka upaya pembangunan kantor yang lebih besar pun mulai dilakukan pengurus.

Respon positif juga ditunjukkan Bupati Sanggau Setiman H Sudin terhadap perkembangan Credit Union ini, serta mengakui sejak berdirinya telah memainkan peran penting dalam pemberdayaan ekonomi kerakyatan di pelosok Kalbar. Dengan berbagai kemudahan yang diberikan kepada anggota, didukung program pembinaan berkelanjutan, CU berhasil membangun perekonomian masyarakat di daerah, lewat usaha individu yang menggunakan modal kredit dari unit simpan pinjam.

Sementara itu Gubernur Kalbar Cornelis memberikan apresiasi terhadap prestasi yang dimainkan Koperasi Kredit Lantang Tipo selama ini. Gagasan yang dikembangkan dimana masyarakat berusaha menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa bergantung pada pemerintah telah terbukti, puji Cornelis.

Dengan konsepnya, masyarakat yang menjadi anggota membayar iuran wajib, simpanan wajib, dan menabung. Dan kemudian menjadi jaminan untuk meminjam dalam jumlah yang masih wajar. “Lembaga keuangan non bank ini, menjadi alternatif masyarakat di daerah untuk memulai usahanya,” kata Cornelis.

Selain itu, jelasnya, berbagai kemudahan yang ditawarkan serta pola pembinaan terhadap anggota yang dilakukan secara terus-menerus, merupakan keunggulan Koperasi Kredit Lantang Tipo, sehingga berhasil menjadi koperasi kredit terbesar di Indonesia dengan anggota mencapai 80.000 orang.

Cornelis mengingatkan, kemajuan yang diperoleh jangan membuat kita menjadi lupa diri, dan lupa dengan konsep yang telah dirintis sejak awal. Begitu juga dengan para anggota diminta untuk tidak terlalu konsumtif dengan uang pinjaman, dan mempergunakan dana tersebut untuk hal-hal yang bermanfaat.

Terkait adanya usulan agar CU menjadi lembaga keuangan yang dikenakan sebagai wajib pajak, Gubernur Kalbar menegaskan hal itu tidak akan dilakukan. Cornelis menilai usulan tersebut terlalu mengada-ngada dan terkesan dipaksakan. Kendati saat ini jumlah anggota telah mencapai 80. 000 orang, namun CU bukan lembaga keuangan yang berorientasi bisnis.

Di samping itu nilai tabungan masing-masing anggota, yang disimpan pada unit simpan pinjam semua CU juga relatif kecil. Berdasarkan hasil kalkulasi yang dilakukan sejak berdirinya Credit Union 33 tahun silam, tabungan rata-rata anggota baru mencapai 4 juta rupiah. Jika usulan itu dipaksakan, tentu berdampak negatif terhadap perkembangan seluruh koperasi kredit ke depan dan bakal mempengaruhi perekonomian masyarakat di daerah.

Menutup pidatonya` Cornelis berjanji terus berupaya agar tercipta iklim usaha yang kondusif dan tidak menjejali koperasi kredit dengan berbagai peraturan. Sehingga lembaga keuangan nonbank ini dapat lebih berkembang, tanpa ada yang membatasi ruang geraknya.

Mencari Dasar Pijakan

       SEUSAI peresmian CU Lantang Tipo, Gubernur Kalbar Cornelis dan rombongan kemudian berpamitan untuk pulang ke Kota Pontianak. Ia menutup rangkaian kunjungan kerjanya selama lima hari di wilayah timur Kalbar dengan memilih Kabupaten Sanggau sebagai tempat terakhir.

Sejumlah kegiatan yang telah terjadwal sudah dilaksanakan di wilayah pedalaman Kalbar. Kini, hampir dapat dipastikan ia bakal disibukkan dengan proses pencarian solusi dari berbagai persoalan yang tengah dihadapi masyarakat Kalbar saat ini.

Kunjungan langsung ke daerah dan melihat dari dekat kondisi kehidupan masyarakat, berbaur di tengah kegiatan baik yang bersifat seremonial maupun ibadat, bakal menjadi warna tersendiri dalam setiap kebijakan yang bakal diambil ke depan.

Kebijakan itu, tentunya yang mampu menciptakan suasana kondusif bagi seluruh masyarakat Kalbar, membuka keterisolasian wilayah, membangun etos kerja, menghilangkan rasa permusuhan, serta menjaga nilai-nilai tradisi leluhur.

Untuk itu pula, ia rela menempuh perjalanan yang jauh dan melelahkan, bermalam di lokasi terpencil dan jauh dari sentuhan modernitas, untuk mencari dasar pijak


BOY SINU

0 comments:

Poskan Komentar