Sabtu, 22 Januari 2011

AJANG KREASI DI MUSIK KAMPUS 2011

Setelah sempat vakum selama 2 tahun, akhirnya pertunjukan Musik Kampus kembali digelar Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura Pontianak, tepatnya 12 Maret 2011 mendatang. Kegiatan yang diorganisir oleh Fakultas Teknik ini, terselenggara setelah adanya dukungan kuat dari para alumni. Bahkan, boleh dibilang, justru para alumnilah yang ngotot untuk digelarnya even bergengsi ini. Maklum, ajang serupa terakhir kali digelar tahun 2008 lalu, itu pun setelah vakum selama 7 tahun. 
Ditemui di RRI Pontianak, Jum`at (21/01/110), Ketua Bidang Humas Panitia Musik Kampus – PMK UNTAN 2011, Aditya Widyawisata menyatakan ”ajang Musik Kampus dimaksudkan bukan hanya untuk memperkuat tali silaturrahmi antara dosen, mahasiswa Teknik dan para alumni. Namun juga, memberi ruang bagi para musisi lokal, untuk unjuk kebolehan di bidang musik melalui suatu pertunjukan. Baik itu berbentuk band, vocal group maupun solo vocal, tanpa batasan jumlah lagu dan aliran musik. Setiap peserta bebas memilih lagu dan menampilkan atraksi pangsung. Pentas musik nantinya dipusatkan di pelataran PKM Untan, dengan sebuah panggung megah yang dilengkapi Sound System terbaik. Bahkan, untuk memeriahkan acara, Pihak panitia juga mengupayakan agar dapat disiarkan secara Live oleh Stasiun Radio dan TV lokal. Sedangkan untuk bintang tamu pada malam puncak acara, pihak Panitia tengah berupaya mendatangkan 2 band asal ibukota Jakarta yakni Zamrud dan EdanE.
Lebih lanjut, Aditya menyebutkan selain menggelar pentas musik, dalam kegiatan Musik Kampus 2011 ini, juga digelar Jalan Santai dan Temu Alumni. Sementara itu, menyangkut aspek keamanan, disamping membentuk Tim Kemanan Internal, pihak Panitia juga melibatkan aparat kepolisian.

GAKESLAB USUNG PROGRAM PENINGKATAN PELAYANAN MEDIK

PONTIANAK. Ketua Umum Gakeslab Ahmad Rudiat menyatakan, ”komunitas pengusaha yang tergabung dalam Gakeslab, telah komit untuk menyelaraskan langkah dengan visi misi pemerintah. Yakni peningkatan pelayanan medik bagi masyarakat, menuju indonesia sehat. Pernyataan tersebut disampaikan Ahmad Rudiat saat memberikan Kata Sambutan, dalam Munas V Gakeslab di Kapuas Palace Selasa (19/01/11). Sehingga, salah satu agenda pembahasan dalam Munas Gakeslab V di Kota Pontianak adalah, menyusun program untuk peningkatan pelayanan medik bagi masyarakat di kawasan perbatasan. Disamping itu, Munas juga harus menjadi momen bagi seluruh anggota, untuk meningkatkan mutu pelayanan gakeslab secara keseluruhan. Sekaligus menyerap aspirasi yang berkembang dalam skala nasional, dan kemudian diimplementasikan melalui kebijakan lokal.  
Sementara itu gubernur Kalbar dalam pidato tertulis yang disampaikan Sekretaris Daerah M. Zeet Hamdy Assovie mengatakan, ” bahwa era globalisasi menuntut semua pelaku usaha, termasuk perusahaan alat – alat kesehatan dan laboratorium bekerja keras memenangkan persaingan, sehingga tetap eksis terhadap permintaan pasar. Tantangan yang sudah jelas dihadapi bangsa Indonesia adalah liberalisasi perdagangan di kawasan ASEAN, yang dimulai melalui FTA (Free Trade Area) pada tahun 2003 lalu, kemudian tahun 2010 untuk negara – negara di kawasam Asia Pasifik dan selanjutnya di tahun 2010 untuk negara – negara yang tergabung dalam WTO - World Trade Organization.
Persoalan mendasar di era perdagangan bebas adalah bagaimana memanfaatkan pedagangan bebas untuk mendapatkan keuntungan maksimal, dan mengurangi dampak yang merugikan. Masalah tersebut hanya dapat dijawab, melalui peningkatan daya saing yang bersumber dari peningkatan efisiensi dan produktifitas. Globalisasi yang terjadi telah mengakibatkan batas pasar internasional dan domestik menjadi sangat tipis, dan kemampuan memenangkan persaingan di pasar harus dibangun melalui kemampuan menghasilkan produk yang berkualitas melalui kreatifitas, teknologi dan inovasi yang berkelanjutan. Tantangan cukup berat yang dihadapi adalah berlakunya ACFTA – Asean China Free Trade Agreement sejak 1 Januari 2010. Walaupun dampak yang signifikan belum dirasakan di Kalbar, namun bila sejak dini tidak segera mempersiapkan diri dengan meningkatkan daya saing, baik yang terkait dengan mutu produk maupun strategi pemasaran, maka produk lokal sulit untuk tumbuh dan berkembang. Sehingga produsen maupun pelaku usaha lokal, semakin terpuruk menghadapi kondisi tersebut.
Di sisi lain, trend positif pertumbuhan ekonomi Kalbar selama 2 tahun belakangan, yakni 4, 7 % di tahun 2009 (di atas pertumbuhan ekonomi nasional) dan 5, 5 % - 6 % di tahun 2010, sebenarnya membuka peluang bagi pelaku usaha, termasuk Gakeslab untuk memasarkan berbagai jenis produk dan jasa di bidang kesehatan. Selain membantu Pemerintah Daerah dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, berkembangnya kegiatan usaha kesehatan juga turut menjaga stabilitas ekonomi daerah. Namun, dalam pemasaran berbagai produk, untuk turut menggalakkaan produk dalam negeri. Sehingga produk dometik semakin kuat dan berdaya saing yang tinggi. Tentunya, semua produk kesehatan yang dipasarkan harus memenuhi Standar Nasional Internasional – SNI dan terkalibrasi.  

Secara khusus M. Zeet Hamdy Assovie  mengajak partisipasi aktif Gakeslab, dalam peningkatan kesehatan masyarakat, khususnya yang berada di wilayah perbatasan. Yakni dengan menyisihkan sebagian dana CSR atau Corporate Social Responsibility, untuk penyediaan obat – obatan maupun peralatan medis. Menurutnya, ketersediaan sarana kesehatan bagi masyarakat di Perbatasan Kalbar - Serawak Malaysia masih sangat minim, sehingga menuntut partisispasi semua pihak, terutama komunitas pengusaha yang bergerak di bidang kesehatan dan farmasi.

Hal senada juga diungkapkan, Direktur Jendral Bina Pelayanan Medik Kementrian Kesehatan Supriantoro. Sudah sewajarnya kalangan pengusaha juga memberikan perhatian serius bagi peningkatan  derajat kesehatan masyarakat, terutama yang berada di wilayah pedalaman dan terpencil. Untuk, itu, dirinya berharap, melalui momen Munas Gakeslab V tahun 2011, dihasilkan suatu komitmen dari komunitas pengusaha yang bergerak di bidang kesehatan atau farmasi dalam peningkatan kesehatan masyarakat, dengan menyisihkan sedikit keuntungan yang diperoleh bagi penyediaan fasilitas kesehatan.
Di bagian lain, Supriantoro mengakui jika, minimnya sarana kesehatan di wilayah perbatasan, telah menyebabkan sebagian masyarakat Indonesia lebih menyukai untuk berobat ke negara tetangga. Untuk itu, Pemerintah Pusat melalui Kementrian Kesehatan, memprioritaskan peningkatan sarana kesehatan kawasan perbatasan dalam program tahunan. Seperti pada tahun 2011 ini, Kementrian Kesehatan memfokuskan pembangunan fasilitas kesehatan yang representatif di perbatasan Kalimantan – Malaysia.    

Rabu, 12 Januari 2011

AKSI GUGAT SANG SOSIOLOG UI



Jakarta. Sekitar 800 orang yang tergabung dalam Masyarakat Dayak Menggugat, menggelar aksi demo di Bundaran HI, Jakarta Rabu (12/1/2011). Aksi yang digelar kedua kalinya  ini tetap menuntut agar Sosiolog UI Prof. Thamrin Amal Tomagola meminta maaf kepada masyarakat Dayak, atas pernyataannya yang menilai bahwa etnis Dayak sudah biasa dengan tindakan asusila. Pernyataan tersebut dikemukakan oleh Prof. Thamrin dalam persidangan Kasus Ariel di Bandung pada 30 Desember 2010 yang lalu. Aksi yang diikuti oleh mayoritas kaum muda ini diisi dengan orasi Gubernur Kalimantan Barat Drs.Cornelis,MH dan anggota DPR RI Karolin Margret Natasa. 
Dalam orasinya, Cornelis menyampaikan bahwa Prof. Thamrin telah melakukan kejahatan dengan melakukan praktik "Penghakiman" terhadap etnis Dayak lewat pernyataan dan penelitian tak jelasnya. Masyarakat Dayak sudah terlanjur terluka dan merasa direndahkan. Oleh karena itu, Prof. Thamrin bukan hanya sekedar harus minta maaf, tetapi dia harus membayarnya dengan hukum adat. "Saya menilai gelar akademisnya Thamrin tidak cocok dengan pernyataannya, dia kok jadi sembarangan ngomong seperti anak kecil. Sepertinya perlu ditinjau ulang bahkan dicopot saja gelarnya, karena saya rasa seorang Profesor tidak bisa dengan mudah menyampaikan pernyataan yang sangat tidak beralasan dan mendiskreditkan suatu etnis seperti Dayak",ungkap Cornelis kepada para wartawan di sela-sela aksi tersebut. 

Sementara itu, anggota DPR RI dr. Karolin Margret Natasa menyatakan, jika Prof. Thamrin mengatakan pernyataannya itu atas dasar penelitian, kita juga bisa melakukan penelitian tandingan untuk membuktikan bahwa Masyarakat Dayak tidak serendah seperti yg dikatakan sosiolog tersebut. "Dayak itu punya adat yang kuat dan tidak seperti yang dikatakan sosiolog Thamrin. Jika dia bilang itu hasil penelitian, kita juga bisa membuat penelitian tandingan bersama para akdemisi," ujar Karolin.
Aksi yang digelar dimulai sejak jam 11 siang dan akhirnya membubarkan diri dengan tertib sekitar jam 1 siang. Dalam aksi tersebut, selain melakukan orasi – orasi, juga diselingi oleh tarian adat Dayak yang dilakukan oleh para pemuka adat dan kaum muda.

Minggu, 09 Januari 2011

KETIKA BANGSA SERUMPUN BERKEMAH

Setelah sukses diselenggarakan di Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat Juni 2010 lalu, Kemah Budaya antar negara serumpun kembali digelar. Kali ini kegiatan serupa digelar di Kabupaten Sambas Kalbar, dengan peserta bertambah dari negara Brunei Darussalam. Partisipasi organisasi kepanduan negara Brunei, semakin memperkokoh Kemah Budaya antar negara serumpun. Dengan demikian Kemah Budaya Serumpun – KBS Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam di Kabupaten Sambas, menjadi wadah bagi ketiga negara untuk saling mengetahui, mengenal, memahami dan menghargai budaya sendiri maupun negara lain. Sehingga hubungan ketiga negara serumpun semakin erat, dan persaudaraan bangsa serumpun kian solid. Pernyataan tersebut disampaikan Ketua Kwartir Nasional – Kwarnas Gerakan Pramuka Azrul Azwar di Pendopo Bupati Sambas Rabu (15/12/10). Dirinya menjelaskan bahwa kegiatan KBS, merupakan bentuk komitmen dari organisasi kepanduan masing – masing negara, terhadap pelestarian dan peningkatan silaturrahmi bangsa serumpun. Sekaligus mewariskan dan menanamkan nilai – nilai budaya luhur yang dimiliki, kepada kalangan generasi muda. Di samping itu, ajang KBS merupakan forum bagi kalangan muda untuk mengaktualisasikan diri, melalui berbagai kegiatan berdasarkan keterampilan yang diperoleh di gugus depan. Di bagian lain Azrul, menyatakan bahwa gerakan Pramuka merupakan lembaga pendidikan, untuk membentuk watak, kepribadian dan akhlak generasi muda. Sehingga mempunyai karakter, ketrampilan dan nasionalisme.
Menurutnya, Kalbar merupakan salah satu Korwil yang cukup berprestasi, antara lain pernah menjadi tuan rumah Musyawarah Nasional - Munas Gerakan Pramuka, dan tidak banyak provinsi meraih prestasi seperti itu.. Khusus untuk Sambas yang merupakan kota dengan ukuran kecil, jika dibandingkan kota Jakarta, sukses menggelar kegiatan yang melibatkan 3 negara dinilai suatu prestasi yang membanggakan. Dirinya sangat senang berbagai kegiatan berskala nasional maupun internasional, dapat terselenggara di Kalbar
Terkait gerakan kepramukaan saat ini yang kembali bergairah, diakui oleh Azrul. Namun, dirinya merasa belum puas, sebab masih ketinggalan dibandingkan dengan gerakan pramuka sebelum tahun 1998. Saat itu Gugus Depan – Gudep berjalan, tidak hanya sekedar mengunakan seragam kepramukaan, tapi diisi dengan berbagai kegiatan. Inilah yang tengah direvitalisasi oleh Presiden, dimana dirinya mendapat tugas untuk merevitalisasi kepramukaan di tanah air.
Di tempat yang sama, Ketua Panitia Penyelenggaran KBS II Tahun 2010 Juliarti Djuhardi Alwi menyebutkan, dari keseluruhan kegiatan 1/3 adalah kegiatan pramuka sedangkan 2/3 merupakan kegiatan budaya. Khusus untuk budaya diarahkan pada promosi wisata lokal. Karena masyarakat Sambas terdiri dari 3 etnis besar, maka yang diperkenalkan adalah budaya dari ketiga etnis. Untuk etnis Melayu melalui wisata air, budaya Dayak di daerah pegunungan, sedangkan wisata agro di Kecamatan Pemangkat untuk memperkenalkan budaya Tionghoa. Juliarti optimis KBS maupun Gerakan Kepramukaan dapat menjadi wahana pendidikan, khususnya pembinaan karakter generasi muda melalui wadah kepanduan. Di sisi lain juga mendukung program kepariwisataan, dengan mempromosikan Kabupaten Sambas maupun Provinsi Kalbar sebagai daerah tujuan wisata yang terpilih dan spesifik.  
Sementara itu, Bupati Sambas Burhanuddin A. Rasyid mengakui KBS dapat semakin mempererat persaudaraan, kebersamaan dan saling pengertian antara 3 negara serumpun. Sebab, tidak dapat dibantah bahwa antara Sambas, Serawak Malaysia dan Brunei Darussalam, merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Dirinya sempat mempertanyakan dipilihnya Sambas sebagai tuan rumah, alasan pertama, keanekaragaman seni dan budaya yang dimiliki dan kedua hubungan histroris. Seperti diketahui bahwa Sultan Sambas berasal dari Brunei, kemudian Sultan Tengah dari Serawak sempat tinggal cukup lama di Sambas. Terakhir Sambas dan Serawak merupakan daerah yang berbatasan. Sehingga masyarakat kedua negara harus tetap menjaga persatuan, meskipun saat ini menjadi 2 negara yang berbeda. Kegiatan ini juga dapat menghindari terjadinya konflik bilateral antara ketiga negara, seperti yang terjadi bebeerapa waktu lalu. Jika terjadinya persoalan segera diselesaikan dengan musyawarah, sehingga terhindar perpecahan antara negara serumpun. Melalui KBS tentunya membuka wawasan dan cakrawala berfikir generasi muda Sambas, bukan hanya sebatas lokal namun menyebrang ke wilayah ASEAN. Kegiatan Pramuka dinilai Burhanuddin relevan untuk membangun karakter pemuda. Apalagi Sambas mempunyai misi pada tahun 2015 menjadi terunggul di Kalbar, sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang, yang membutuhkan generasi muda berkualitas dan berakhlak. Melalui gerakan pramuka mulai dari tingkat SD, SMP hingga SMA diharapkan dapat meningkatkan kualitas SDM generasi muda.
Respon positif juga ditunjukkan oleh gubernur Kalbar Cornelis MH. atas terselenggaranya KBS, untuk memperkuat hubungan persaudaraan bangsa Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam. Dengan demikian generasi muda ketiga negara, dapat saling mengetahui, mengenal, memahami dan menghargai budaya sendiri maupun negara lain. Sehingga hubungan ketiga negara serumpun semakin erat, dan persaudaraan bangsa serumpun kian solid. Apalagi masyarakat pulau Kalimantan yang meliputi 3 negara, sudah seharusnya saling mengenal, karena adanya hubungan historis dan kekerabatan dari seluruh masyarakat yang mendiami.  
Sementara itu, Ketua Pesuruh Jaya Pengakap Negara Malaysia, Datok Haji Kaharuddin bin Mo`min, optimis” Kemah Budaya Serumpun menghasilkan pertemuan jati diri dari 3 bangsa serumpun. Sebab, kegiatan ini mempunyai azas yang kokoh dalam konsep, serta sistem KBS yang berazaskan budaya Melayu. Walaupun konsep Negara Malaysia berazaskan satu Malaysia, sesungguhnya konsep budaya Melayu adalah konsep yang menjadikan Bangsa Melayu itu disebut Budaya Serumpun,”akan melahirkan bangsa yang besar.
Sedangkan Ketua Pesuruh Jaya Pengakap Persekutuan Pengakap Negara Brunei Darussalam Haji Bandar bin Haji Ali meyakini,” Kemah Budaya Serumpun dapat menjadi wadah dan penghubung bagi generasi muda ketiga negara, untuk saling memahami sekaligus merajut keamanan kawasan yang kekal, sejalan dengan spirit ASEAN dan bangsa – bangsa di dunia.
Kemah Budaya Serumpun yang digelar di Kabupaten Sambas berlangsung selama sepekan, dengan jumlah peserta mencapai 2. 000 orang, 400 orang diantaranya peserta dari Malaysia dan Brunei. Adapun rangkaian kegiatan yang dikuti antara lain ; Temu Tokoh, Wisata Budaya, Apreasi Film, pentas Budaya, Workshop, Karnaval, Outbond serta Penghijauan. Terpilihnya Sambas sebagai tuan rumah berdasarkan hasil kesepakatan Kwarnas Pramuka dan Pengakap Malaysia serta Brunei. Selain dari Kalbar, juga ikut pramuka dari Jakarat dan Sumatra.
Sebelumnya kegiatan serupa digelar di Kabupaten Tanah Datar Sumbar 8/12 Juni 2010, dengan nama Jambore Budaya Serumpun I Indonesia – Malaysia. Kegiatan dipusatkan di Bumi Perkemahan Istano Basa Pagaruyung.
Kita berharap ajang KBS tidak hanya sebatas kegiatan biasa, namun dapat semakin mempererat hubungan antar negara serumpun, terutama Indonesia – Malaysia yang kerap bersitegang. Meminjam istilah pakar Ekowisata Fakultas Kehutana IPB DR. Ricky Avenzora, mengobati luka sosial, yang muncul pada masyarakat Indonesia atas perilaku segelintir masyarakat Malaysia, yang beberapa tahun belakangan bertingkah seperti kacang lupa kulitnya”.

SAWIT ANGKAT DERAJAT KEHIDUPAN MASYARAKAT

Meskipun kegiatan usaha perkebunan kelapa sawit di Kalbar terus menjadi sorotan, karena dianggap sebagai pemicu utama kerusakan lingkungan, namun tidak demikian dengan pandangan masyarakat di Kecamatan Parindu Kabupaten Sanggau. Sebagian besar masyarakat setempat justru menilai, ”perkebunan kelapa sawit yang digeluti hampir 16 tahun telah memberikan hasil yang signifikan bagi keluarga petani, masyarakat di sekitar kawasan perkebunan serta Pemerintah Daerah. Di hadapan puluhan jurnalis yang mengunjungi Kebun Plasma milik PT. PN XIII di Kecamatan Parindu Kabupaten Sanggau (05/10/10), ”salah seorang warga setempat Antonius Biono mengatakan ”usaha perkebunan kelapa sawit yang dipelopori PT. PN Pontianak terbukti berhasil mengangkat derajat perekonomian dan kehidupan sosial masyarakat. Pola kemitraan yang ditawarkan melalui PIR dan KKPA telah mengubah wajah daerah, serta mengeluarkan masyarakat dari keterbelakangan dan kebodohan. Walapun dirinya tidak menampik jika aktifitas perkebunan di beberapa tempat telah menjadi penyebab kerusakan lingkungan maupun pemicu konflik, tetapi hal itu dominan terjadi pada perkebunan yang dikelola oleh pihak swasta.
Tetapi dalam beberapa hal, masih ada yang harus dibenahi manajemen PT. PN. Terutama memperbaiki mekanisme dan sistem penyaluran alokasi dana dari Program Tanggungjawab Sosial atau Corporate Sosial Responsibility – CSR.  Sebab, selama ini penyaluran dana CSR untuk Program Kemitraan dan Bina Lingkungan – PKBL belum merata, dan tidak terprogram dengan target yang jelas. Salah seorang warga setempat Heriyanto menilai keuntungan signifikan yang diraih PT. PN dari kegiatan perkebunan kelapa sawit, tidak sebanding dengan penyaluran dana CSR yang diberikan pada masyarakat. Selain itu, bantuan yang disalurkan hanya dinikmati oleh kelompok atau masyarakat yang berada di wilayah perkebunan, belum menjangkau pemukiman penduduk di luar areal perkebunan. Dirinya mengkhawatirkan tidak meratanya pembangunan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat, dapat menimbulkan kecemburuan sosial yang pada akhirnya memicu konflik.
Menjawab hal itu, Direktur SDM dan Umum PT. PN XIII Pontianak Wagio Ripto Suratno mengakui, jika penyaluran CSR selama ini belum dapat menjangkau seluruh wilayah dan belum dapat mengakomodir semua tuntutan masyarakat, mengingat terbatasnya anggaran. Selain itu, alokasi dana PKBL sebesar 4 % dari laba bersih per tahun, bukan hanya disalurkan pada wilayah Kalbar, namun juga seluruh wilayah PT. PN di pulau Kalimantan.
Selanjutnya, Wagio Ripto Suratno menyebutkan total penyaluran dana CSR untuk pemberdayaan masyarakat di sekitar areal perkebunan mencapai 32 milyar rupiah , yang disalurkan mulai tahun 2008 hingga 2010. Alokasi dana berasal dari pembagian laba yang disyahkan pada Rapat Umum Pemegang Saham – RUPS, melalui Program Kemitraan dan Bina Lingkungan – PKBL.
Sementara itu, General Manager PT. PN XIII District Kalbar II Pandapotan Girsang menilai tudingan sepihak sejumlah NGO maupun LSM, jika pengembangan perkebunan monokultur skala besar telah merusak kawasan hutan, ”tidak berlaku untuk kegiatan perkebunan yang dikelola PT. PN ”baik untuk perkebunan kelapa sawit maupun tanaman karet. Sebab, konsesi lahan yang diperoleh PT. PN untuk pembukaan perkebunan tetap mengacu pada studi AMDAL, dan selalu melibatkan masyarakat lokal dalam pengembangan usaha melaui pembagian keuntungan secara adil. 
Kendati demikian, Girsang mengakui jika aktifitas perkebunan kelapa sawit selama ini masih perlu pembenahan, mulai dari peningkatan produktivitas CPO, membangun praktek hubungan inti dan plasma yang ideal, serta upaya mengembangkan industri hilir. Adapun strategi dan kebijakan yang ditempuh manajemen PT. PN antara lain, optimalisasi asset produksi, optimalisasi struktur organisasi, pengembangan usaha dan tanggungjawab sosial. Di samping itu, PT. PN XIII juga telah menerapkan metode baru dalam pengelolaan kebun plasma, yakni Pola Satu Manajemen atau PSM, Dimana pengelolaaan kebun, mulai dari pembibitan, penanaman, pemupukan, perawatan hingga peremajaan sepenuhnya dikendalikan oleh Perusahaan.